Diteror Debt Collector Karena Hutang Pada Program aplikasi pinjaman online terpercaya

Dona (bukan nama sesungguhnya), sebagai seorang karyawan firma hukum berumur 31 tahun yang perlu jadi korban intimidasi debt collector sampai penghinaan seksual karena berutang pada aplikasi pinjaman online.

Tergoda aplikasi pinjaman online terpercaya

Ceritanya bermula di tahun 2017. Waktu itu belum sampai satu bulan Dona bekerja dalam suatu firma hukum di Jakarta. Dia perlu uang untuk ongkos hidup setiap hari karena belum terima upah penuh. Menyaksikan jumlahnya program yang tawarkan utang secara instant, dia tergerak untuk coba.
“Saya semula cuman main-main cari melalui internet. Rupanya banyak program utang uang yang berada di playstore”, tutur Dona.

Program-aplikasi aplikasi pinjaman online terpercaya itu tawarkan persyaratan yang paling simpel untuk beberapa calon peminjam. Ini membuat Dona tertarik untuk selekasnya ajukan utang ke salah satunya program.

“Sesudah install, program itu cuman minta photo KTP, photo diri saya, dan photo saya sekalian menggenggam KTP”, lebih Dona
Waktu itu Dona ajukan utang sejumlah Rp 800.000,-. Sesudah ditambahkan bunga dia harus kembalikan sejumlah Rp 980.000,- dalam tempo waktu 14 hari.

Dona bayar hutangnya on time. Tidak lama berlalu, ada pemberitahuan yang tawarkan credit dengan limit semakin tinggi dari program yang serupa. Program itu seakan memikat Dona untuk selalu pinjam.

“Ia tawarkan saya utang satu juta rupiah. Dalam tenggat waktu 30 hari, saya harus balikkan 1,2 juta. Terang saja saya tergoda dan pada akhirnya ajukan utang kembali”, Dona mengaku.

Kurang dari 1 menit, uang itu telah masuk di rekening Dona. Dia cukup kagum dengan demikian cepatnya utang dapat cair. “Tinggal pencet menu oke, duitnya masuk langsung”, ucapnya.

Sesudah bayar hutang utang ke-2 , Dona kembali mendapatkan penawaran credit dengan limit yang semakin tinggi. Selain itu, dia mendapatkan penawaran utang dari bermacam program lain lewat sms.

Di utang untuk ketiga kalinya berikut, Dona mulai kesusahan bayar. Kondisi itu menggerakkan Dona untuk pinjam dana dari 2 aplikasi pinjaman online lainnya. Semenjak waktu itu Dona mulai keduk lubang tutup lubang, sampai pada akhirnya dia berutang ke sepuluh program.

“Pada akhirnya saya pilih diam karena batas waktu pembayaran sudah bentrokan semua. Tidak tahu kembali harus bagaimana. Aplikasinya berbeda dan angkanya juga bervariatif”, papar Dona

Diteror Debt Collector

Debt collector mulai menghubungi Dona. Awalannya debt collector ini memberitahu jatuh termin pembayaran dengan baik. Dona dengan jujur menjawab jika dia belum sanggup bayar selekasnya, si debt collector langsung marah. Dia langsung dimaki-maki debt collector. Tidak itu saja, Dona didesak untuk bayar hari itu juga.

“Ia ngomong ‘kamu sekolah tidak sich? dapat kan baca termin dan condition’. Saya terkejut donk. Namanya baru dimaki-maki. Saya shock”, kata Dona mengutarakan hatinya. Tetapi ini baru permulaan. 7 bulan selanjutnya Dona dihantui telephone dari debt collector sejauh waktu, tiap hari.
Tidak cuman menelepon lewat hp, debt collector mengontak telephone kantor Dona tiap hari. Sekian hari berlalu, pesan singkat yang mengutarakan jika Dona berutang terkirim ke semua contact yang berada di buku teleponnya. Semua kenalan Dona, terhitung keluarga dan rekanan kerja ketahui permasalahan yang menjeratnya.

“Ia menelepon ke ponsel saya, kantor, keluarga, semua jalan terus bersamaan tiap hari. Saya terus dibayang-bayangi debt collector semenjak bangun tidur”, kata Dona.
Di lingkungan kerja, Dona mulai dibicarakan dan dijauhi beberapa temannya. Dia dipandang asal-asalan karena berutang pada beberapa program sampai diteror debt collector.

Dona akui telah usaha bertransaksi baik dengan beberapa debt collector. Dia juga sudah minta restrukturisasi. Tetapi sejumlah besar debt collector tidak ingin perduli dengan saran Dona. “Ada dua dari 10 program yang ingin dibawa restrukturisasi. Jadi saya cicil pembayaran ke mereka. Sedang lainnya tidak ingin sepakat. Ya telah, saya tidak ada uang. Ingin bagaimana kembali?”, kata Dona

Beberapa debt collector cuman mengontak Dona untuk mengancam dan jatuhkan psikis, tidak untuk cari jalan keluar. Mereka memikir langkah ini dapat membuat beberapa debitur, terhitung Dona akan usaha membayar hutang selekasnya.

“Sesungguhnya yang paling berat dalam kasus saya ialah tangani debt collector, bukan permasalahan hukumnya. Mereka tidak pernah bertandang ke saya, tetapi benar-benar mengusik karena mengancam terus melalui telephone”, tutur Dona.

Dona mulai berasa terpukul saat debt collector satu kali menyentuh statusnya jadi orang tua tunggal saat itu. “Yang nelpon kan cowok. Ia ngomong ‘enggak malu ya banyak hutang’, ‘janda ya punyai banyak hutang”,kata Dona.

Dona lebih tertekan kembali saat debt collector melemparkan sebuah kalimat yang bersuara berbuat tidak etis dan menyentuh harga dianya. Berikut cuplikan pembicaraannya

Debt collector: Jadi lo ingin bayar 200 kapan?

Dona: Jika itu lebih kurang saya bayar saat ini. Tetapi keluarin surat perjanjiannya lah

Debt collector: Begini dech Mbak, lo gue membeli saja dech, lo gue membeli. Harga lo berapakah sich?

Dona: Bukan untuk dipasarkan

Debt collector: Bukan untuk dipasarkan? Begini, lo gue membeli, lo telanjang, lo joget-joget. Gue bayarin hutang lo. Hutang lo semua gue bayarin.

Perbincangan itu membuat Dona yang tabah jadi menjadi stres. “Itu saya ingin nangis, sumpah. Air mata saya telah megar. Saya berasa benar-benar bersedih, berasa benar-benar direndahkan. Apa lagi yang bicara lelaki. Kok tega bicara demikian”, kata Dona.

Melapor Ke Instansi Kontribusi Hukum

Dona pada akhirnya memberikan laporan kejadian yang dirasakannya pada Instansi Kontribusi Hukum (LBH) Jakarta.
“Sama seperti yang sudah disebutkan rekan advokat pada tempat saya bekerja, LBH mengutarakan jika debt collector tidak dapat disetop karena ini telah jadi resiko saya. Bila mereka menuntut saya secara hukum, baru LBH dapat mengikuti”, terang Dona.

Meskipun LBH tidak dapat menangani debt collector langsung, tetapi disini Dona dikenalkan dengan Jeanny Sirait, Advokat Khalayak Sektor Perkotaan dan Warga Urban. Lewat Jeanny, Dona kerap konsultasi bagaimana seharusnya hadapi debt collector supaya searah dengan hukum yang berjalan. Dia juga dianjurkan untuk kembali minta restrukturisasi atas hutangnya.

“Ada faedah sich saya lapor ke LBH. Setiap debt collector telephone, saya pada akhirnya ngomong jika saya telah lapor LBH dan meminta restrukturisasi ulangi. Saya ajak mereka bertemu untuk restrukturisasi. Yang jelas saya punya niat untuk bayar, seterusnya terserah mereka”, katanya.

Memang debt collector tidak langsung menyongsong positif. Masih perlu pembicaraan keras sama mereka. Tetapi waktu itu Dona berasa lebih optimis karena telah mempunyai amunisi hukum

Dengan kontribusi LBH, Dona memberikan laporan penghinaan seksual oleh debt collector yang pernah dirasakannya ke Polda Metro Jaya. Dona sempat pernah alami jawaban yang kurang membahagiakan dari petugas reskrimsus Polda Metro. Dia berasa seakan-akan penghinaan seksual yang dirasakannya dipandang remeh. ” Ia ngomong begini ‘ya sudah Mbak dibayarkan saja hutangnya. Walau sebenarnya yang menjadi permasalahan bukan hutangnya, tetapi langkah ia menagih'”, kata Dona.

Sampai sekarang, Dona tidak mendapatkan respon memberikan kepuasan dari faksi berwajib atas laporan yang disodorkannya. Tetapi Jeanny menyarankan untuk simpan arsip laporan itu sebab bisa jadi bermanfaat di masa datang.

“Responnya demikian saja. Cuman bisa selembar kertas dari Polda yang menerangkan sudah terima laporan. Sampai saat ini tidak ada tindak lanjut. Tidak ada BAP, tidak ditelepon kembali”, keluh Dona.

Mendapatkan Surat Peringatan

Satu hari telephone di kantor Dona kembali mengeluarkan bunyi. Nahas untuknya, kesempatan ini yang mengusung telepon dari debt collector ialah atasan Dona. “Atasan saya dengar langsung debt collector membentak-bentak, ucapnya ‘kamu nampung maling ya di perusahaan kamu! Kamu bela maling! Ia sudah membawa kabur uang'”, tutur Dona.

Kejadian ini berekor pada Surat Peringatan (SP) yang dikenai perusahaan ke Dona. Telah berapa minggu telephone kantor berdering tiap hari karena debt collector yang meminta hutang. Dona dikasih waktu beberapa waktu untuk menyelesaikannya. Dalam 3 bulan, atasannya tidak ingin dengar kembali deringan telepon dari debt collector.

“Saya janji pada atasan akan mengupayakan agar permasalahan ini cepat usai. Saya ngomong jika saya telah bolak-balik ke LBH” ucapnya.

Peristiwa ini membuat Dona semakin lincah mengusung telephone dari debt collector agar tidak ada orang yang lain terlebih dahulu mengusung telephone itu di kantor. Selain itu, Dia memberikan agunan pada debt collector jika dia akan melayani mereka seandainya mereka tidak menelepon ke telephone kantor.

Langkah ini cukup sukses karena debt collector tidak lagi menghubungi Dona melalui telepon kantor. Dona akui dapat lumayan kuat hadapi debt collector untuk tidak kehilangan pekerjaan. “Memang seharusnya ditemui. Jika tidak, mangkuk makan saya terancam. Maknanya saya mengganti sudut pandang. Dibanding mangkuk makan saya terancam, saya ikhlaskan diri dimaki-maki. Paling cuman dapat diam atau nangis. Bolehkah buat”, jelasnya.

Kembali Sembuh

Sekarang Dona masih pada proses mencicil pembayaran hutang pada beberapa aplikasi pinjaman online. Keseluruhan hutang paling tingginya sesudah ditambahkan bunga sempat pernah capai 30 juta dari 10 program. Walau sebenarnya awalannya Dona cuman berani pinjam uang dengan nominal tertinggi Rp 1.200.000,- dari 1 program.
Tetapi, untungnya makin lama Dona tidak lagi diteror debt collector. Dia juga benar-benar tidak pernah berjumpa langsung sama mereka. Walau begitu dia akui kisah hidupnya diteror debt collector lewat telephone sepanjang seputar tujuh bulan benar-benar mengusiknya.

Dona tidak lagi trauma dan bisa hidup tenang. Tetapi Pengalaman ini mengganti Dona. Dia tidak lagi berani pinjam uang pada aplikasi pinjaman online, meskipun itu fintech peer to peer lending yang tercatat di Kewenangan Layanan Keuangan (OJK), apa lagi yang ilegal. “Pelajaran yang dapat saya mengambil ialah tidak boleh gampang tertarik”, ungkapkan Dona.

Situasi di kantornya juga telah aman. Hubungan dengan kawan-kawan kerja normal kembali. Sekarang dia sebagai koordinator sekumpulan korban aplikasi pinjaman online yang melapor ke LBH Jakarta. Dia sering share anjuran pada kawan-kawan sama-sama korban mengenai bagaimana hadapi debt collector. Dona bahkan juga pernah menolong partnernya hadapi debt collector lewat telephone.

Dona mengutarakan dia telah melapor dan berunding dengan OJK, tetapi tidak ada tanggapan yang memberikan kepuasan. Dia menambah, berdasar pantauan LBH, POJK Nomor 77/POJK.01/2016 mengenai Service Pinjam Pinjam Uang Berbasiskan Tehnologi Info yang sering jadi referensi OJK tidak mempunyai ketentuan yang pasti.

Karenanya, Dona mengharap OJK dapat keluarkan ketentuan yang lebih detil berkaitan fintech. “Kami ingin OJK keluarkan ketentuan yang pasti. Kami ingin ketentuan yang pasti berkaitan bunga, ketertinggalan, dan lain-lain. Hingga warga dapat menggunakan layanan aplikasi pinjaman online terpercaya dengan aman, nyaman, dan bebas gertakan”, tandas Dona.

Leave a Comment